Sinergi Literasi dan Agroekologi, TBM Isykarima Ajak Siswa MA NU Tengguli Praktik Langsung Sambung Pucuk Alpukat
JEPARA — Semangat literasi kini tak hanya diwujudkan lewat lembar buku bacaan, melainkan juga lewat lembaran daun dan tunas hijau di bumi Isykarima. TBM Isykarima melalui unit program kemandirian pangan, Isykarima Farm, kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Pada Rabu, 21 Oktober 2026, Isykarima Farm kedatangan puluhan siswa-siswi kelas XI Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) Tengguli untuk menggelar kegiatan kokurikuler berbasis lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB ini diawali dengan pemutaran film dokumenter pendek di ruang multimedia MA NU Tengguli untuk mengenalkan dasar-dasar budidaya. Setelah itu, rombongan siswa didampingi Kepala Madrasah Son Hadi, S.Ag., S.Pd., Waka Kurikulum Nor Eka Villa Kurniawan, S.E., serta jajaran guru pengampu—Muhammad Ali Burhan, S.H., Ahmad Khoiruroziqin, S.Mat., dan Saiful Faizin, S.S.—langsung bertolak menuju Isykarima Farm di Banjaragung.
Ketua TBM Isykarima, Ummi Mahbubah, menyambut baik kolaborasi lintas sektoral ini. Dalam keterangannya, beliau menyampaikan bahwa Isykarima Farm dirancang bukan sekadar tempat budidaya holtikultura seperti terong, kangkung, kemangi, dan alpukat, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi generasi muda untuk merajut kepedulian ekologis.
Di lokasi pembibitan Isykarima Farm, para siswa diajak langsung mempraktikkan teknik sambung pucuk (grafting) alpukat. Dipandu oleh tutor ahli M. Ilham, para pelajar tampak antusias belajar memilih batang bawah yang sehat, memotong dan meruncingkan entres (pucuk varietas unggul seperti mentega, aligator, super jumbo, dan dori) berbentuk huruf V, hingga mengikat dan membungkus sambungan dengan cermat agar kelembapannya terjaga.
Kegiatan sambung pucuk alpukat di lingkungan madrasah bukan sekadar praktik agraris, melainkan wujud nyata dari internalisasi nilai-nilai fikih lingkungan (fiqh al-bi'ah). Dalam perspektif Islam, merawat alam dan menanam pohon bernilai sebagai ibadah serta sedekah jariyah, di mana setiap tunas yang tumbuh dan memberikan manfaat bagi makhluk hidup dicatat sebagai amal saleh. Melalui teknik sambung pucuk ini, peserta didik diajarkan untuk menjaga kelestarian hayati dan memakmurkan bumi sebagai bagian dari tanggung jawab moral seorang mukmin sebagai khalifah yang amanah terhadap ekosistem.
Di sisi lain, proses tersebut membuka ruang penerapan konsep matematika secara aplikatif dalam menghitung siklus hidup tanaman. Siswa dapat menggunakan logika numerik dan pola hitung untuk memperkirakan durasi keberhasilan tunas sambung, menentukan jadwal penyiraman dan pemupukan, hingga menghitung estimasi usia buah alpukat sejak masa pembungaan hingga siap panen. Perhitungan harian dan bulanan ini melatih ketelitian berpikir rasional, membuktikan bahwa matematika adalah instrumen penting untuk memproyeksikan produktivitas alam secara terukur dan sistematis.
Tidak kalah penting, aktivitas luar ruangan ini beririsan erat dengan mata pelajaran Penjasorkes melalui stimulasi gerak motorik kasar dan halus saat menyiapkan media tanam, mengikat entris, hingga merawat bibit. Bergerak aktif di bawah sinar matahari pagi sambil berinteraksi langsung dengan tanaman menghadirkan kebugaran fisik sekaligus asupan udara segar yang kaya oksigen bagi kesehatan pernapasan. Pengalaman kinestetik di alam terbuka ini tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga membangun kesehatan mental dan kepekaan sensorik yang harmonis bagi siswa.
Melalui kegiatan ini, TBM Isykarima berharap gerakan literasi dapat bertransformasi secara luas—tidak hanya mencerdaskan pikiran lewat literasi baca-tulis, tetapi juga menghidupkan kemandirian pangan, kecintaan pada alam, dan keterampilan hidup (life skills) yang kokoh bagi generasi muda Jepara.